CATUR GURU

Pengertian Catur Guru
Istilah guru dalam bahasa Indonesia berasal dari kosa kata Sanskerta yang artinya: berat, besar, kuat, luas, panjang, penting, sulit, jalan yang sulit, mulia, terhormat, tersayang, agung,sangat kuasa,orang tua (bapak-ibu) dan yang memberikan pendidikan (Apte,1978: 409). Istilah lainnya adalah Àcàrya, Adhyàpaka, Upàdhyàya dan Siva. Kosa kata yang terakhir ini artinya adalah: yang memberikan keberuntungan atau kerahayuan, oleh karena itu di Bali para panditapun disebut Siva oleh para Sisyanya.Dalam pengertian yang lebih luas, guru adalah yang mendidik pribadi, yang mencurahkan ilmu pengetahuan sucinya dan yang membebaskan siswanya dari lembah penderitaan serta yang membimbing untuk mencapai Moksa sebagai tersebut pada Gurustotra 1, yang saya kutipkan pada manggala tulisan ini.
Pengertian tentang guru, terutama penghormatan yang patut diberikan kepada ibu-bapa dan guru yang mendidik secara terinci dijelaskan dalam lontar Pañcaúikûa sebagai berikut :
"Guru ngaranya, wwang awreddha, tapowreddha,
jñànawreddha.Wwang awreddha ng.sang matuha
matuha ring wayah, kadyangganing bapa, ibu.
Pengajian, nguniweh sang sumangàskàra rikita.
Tapowreddha ng. sang matuha ring brata, Jñàna-
wreddha ng. sang matuha rting aji" .
Artinya:
(Yang disebut guru adalah orang yang sudah Awreddha, Tapo-wreddha, Jñànawreddha. Orang Awreddha adalah orang yang sudah lanjut usianya seperti bapa, ibu, orang yang mendidik (mengajar/Pengajian), lebih-lebih orang yang mentasbihkan (mensucikan/sumangàskàra) engkau.Tapowreddha disebut bagi orang matang di dalam pelaksanaan brata.Jñànawreddha adalah orang yang ahli di dalam ilmu pengetahuan (spiritual).
Demikian sepintas tentang pengertian guru, selanjutnya bila kita meninjau tentang jenis-jenis yang disebut guru atau yang berfungsi sebagai guru, maka sebagai guru tertinggi dari alam semesta ini tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Guru Param Brahma atau Parameûþiguru sebagai dinyatakan dalam Gurupùjà 2, berikut:
“Oý Gurur Brahma Gurur Viûóu Gurur deva Maheúvara, Gurur sàkûat Param Brahma tasmai Úrì gurave namaá.”
Artinya:
(Om Hyang Widhi, Engkau adalah Brahma, Viûóu dan Maheúvara, sebagai guru agung, pencipta, pemelihara pelebur alam semesta. Engkau adalah Guru Tertinggi, Param Brahma, kepada-Mu aku memuja)
Untuk mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat Hindu tidak terlepas dari disiplin dalam setiap tingkah laku kita sehari- hari lebih- lebih terhadap Catur Guru. Jadi Catur Guru artinya empat tugas berat yang harus dipikul atau diemban untuk mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan kepada para sisyanya atau muridnya.
Pembagian Catur Guru
A.Guru Swadyaya
Tuhan yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai guru sejati maha guru alam semesta atau Sang Hyang Paramesti guru. Agama dan ilmu pengetahuan dengan segala bentuknya adalah bersumber dari beliau. SARWAM IDAM KHALUBRAHMAN (segala yang ada tidak lain dari Brahman). Demikian disebutkan dalam kitab Upanishad
B.Guru Wisesa
Wisesa dalam bahasa Sanskerta berarti purusa/ Sangkapurusan yaitu pihak penguasa yang dimaksud adalah Pemerintah. Pemerintah adalah guru dan masyarakat umum yang berkewajiban untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa dan memberikan kesejahteraan material dan spiritual.
C.Guru Pangajian
Guru Parampara. Guru di sekolah yang telah benar- benar sepenuh hati dan ikhlas mengabdikan diri untuk mendidik serta mencerdaskan kehidupan Bangsa.
D.Guru Rupaka
Orang yang melahirkan (orang tua), tanpa orang tua kita tak akan ada oleh karena itu betapa besarnya jasa- jasa orang tua dalam membimbing putra- putranya untuk melahirkan putra yang baik (suputra).
Selain yang saya sebutkan diatas kita juga mengenal istilah, yang sering kita dengar atau sudah kita ketahui dari kehidupan sehari-hari kita.
•Tri Guru
Tri sinanggah guru (tiga yang disebut sebagai guru). Demikianlah ucapan-ucapan sastra-sastra mengenai tiga guru. Adapun Tri Guru atau tiga guru itu ialah Guru Rupaka yang artinya orang tua kita, Guru Pangajian, guru yang member pendidikan rohani dan ilmu pengrtahuan suci untuk mendapat kesempurnaan dan Guru Wisesa yaitu pemerintah yang menjadi abdi bagi kesejahteraan rakyat, tempat rakyat bernaung diwaktu kesusahan. Diatara ketiga Guru itu, Guru Pengajian mendapat penghormatan lebih daripada kedua Guru yang lain, karena Guru Pengajian adalah guru yang tidak hanya memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan jasmani, tetapi terutama memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan rohani yang dsebut dengan Dharma, yaitu pendidikan suci berupa kebajikan dan kesucian laksana membuka pintu untuk mendapat kebahagiaan akhirat (Swarga) dan penjelmaan yang baik kemudian terutama member jalan untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi (Paramartha) yang disebut Moksa (kebahagiaan yang langeng karena telah lepas dari ikatan duniawi dan bebas dari rantai Punarbhawa). Lahir dari perut ibu (Guru Rupaka) adalah kelahiran yang belum sempurna dan hanya merupakan kelahiran tubuh (physic) sedangkan yang kedua kalinya (Dwijati) dari pendidikan suci atas tuntutan Guru Pengajian atau Acarya adalah kelahiran sempurna yang memberikan kesucian rohani (Dharma), Swarga da Moksa. Oleh karena itu Guru Pengjian medapat penghormatan lebih dari Guru Rupaka.
Kamanmata pita caiman
yadutpadayato mithah,
Sambhutim tasya tam
widyadyonawabhijayate,

Acaryastwasya yam jatim
widhiwad weda paragah
utpadayati sawitrya
sa satya sa jara mara

Utpadakabrahmadatror
gariyan brahmadah pita
Brahmajanma hi wiprasya
pretya ceha ca saswatam
Atinya:
Ibu dan Bapa (Guru Rupaka) melahirkan dia karena nafsu, maka ia lahir dari perut. Ketahuilah ini adalah kelahiran jasmani. Namun kelahiran yang berdasarkan pentasbihan (Dwijati) dengan (mantra) Sawitri (suatu mantra yang didoakan oleh gurunya kepada muridnya pada waktu upacara pentasbihan (Upanayana)) dari Acarya. (Guru Pengajian) yang telah mahir dalam Weda, itulah kelahiran yang sebenarnya, yang utuh dan abadi. (ajaran amara)
Diantara yang melahirkan dan memberikan pengetahuan mengenai Brahma (Tuhan), yang member pengetahuan mengenai Brahma adalah bapak yang lebih utama, karena lahirnya Brahma pada seorang yang bijaksana (Wipra) sungguh abadi di akhirat maupun di sini (di dunia fana ini)
Gurubhakti
Didalam lontar Silakrama telah diuraikan tata tertib, sujud bakti dan sikap hormat para siswa kerohanian (sisya) terhadap Guru yang mendidik pribadi dan mencurahkan ilmu pengetahuan sucinya terhadap para siswa kerohanian (sisya), kalimat Jawa-Kuna yang saya kitip diatas menyatakan dengan jelas Gurubhakti atau sujud dan hormat yang harus dilakukan oleh para siswa kerohanian terhadap Gurunya yang biasa bergelar Acarya atau Upadhaya, dan di Bali dikenal dengan sebutan Nabe.
Selain daripada yang disebutkan dalam Jawa-Kuna diatas disebutkan juga bahwa seorang sisya tidak boleh duduk berhadap-hadapan dengan Guru, tidak diijinkan memutus-mutus pembicaraan Guru, harus menurut apa yang diucapkan Guru, bila Guru datang ia harus turun dari tempat duduknya, bila melihat Guru berjalan atau berdiri selalu mengikuti dari belakang. Bila berbicara terhadap Guru tidak boleh menoleh kesebelah dan kebelakang suapaya dapat menerima ucapan-ucapan Guru dan selalu meyahut dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan hati (Manohara). Satu lagi kewajiban bagi seorang sisya, walaupun bagaimana marahnya bila Gurunya menasehati hendaklah dituruti. Demikianlah uraian-uraian mengenai tata tertib, sujud bakti dan sikap hormat siswa keohanian (sisya) terhadap Gurunya yang disebutkan didalam Silakrama.
Guru Susrusa
Guru Susrusa merupakan bagian dari Panca Niyamabrata, yaitu lima macam pengendalian diri untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian batin berupa Dharma dan Moksa. Arti dari Guru Susrusa adalah mendengarkan atau menaruh perhatian terhadap ajaran-ajaran dan nasehat-nasehat Guru. Guru Susrusa itu memiliki hubungan erat dengan Gurubhakti (sujud bakti terhadap Guru) dan Asewakaguru (mengabdi kepada Guru), dan semuanya termasuk kedalam masa menuntut ilmu atau yang lebih sering disebut dengan Brahmacari atau aguron-guron.
Didalam Bhagawata Purana terdapat istilah Guru Susrusa yang berarti mendengarkan atau memperhatikan ucapan-ucapan Guru, sebagai suatu bagian dari Dharma, himpunan dari semua kebajikan dan kewajiban suci sebagai sifat mengampuni (Ksama), jujur (Satya), kuat mengekang pikiran (Dama), murni lahir batin (Sausa), bersedekah (Dana), kuat mengendalikan Panca Indra (Indriya Samsaya), tidak menyakiti atau membunuh (Ahimsa), dan mendengar atau memperhatikan ucapan-ucapan Guru (Guru Susrusa), murah hati (Daya) dan lurus hati (Arjawa). Didalam penjelasan mengenai Guru Susrusa itu, Panca Siksa menyebutkan sebagai berikut:
Gurucucrusa, bhakti ting guru, guru
Ngaranya, wang awreddha, tapowreddha,
Jnanawreddha. Wang awreddha . ng. sang
matuha ring wayah, kadyanganing bapa, ibu,
pangjyan, nguniweh sang sumangaskara
rikita, tapowreddha .ng. sang matuha ring
brata. Jnanawreddha .ng. sang matuha ring aji.
Artinya :
Guru Susrusa berarti sujud bakti terhadap Guru. Guru namanya orang yang sudah Awerddha , Tapowreddha dan Jnanawreddha. Orang Awreddha namanya orang yang lanjut usinya sebagai Bapa, Ibu, orang yang mengajar (Pangjyan) terlebih orang yang mentasbihkan (Sumangas Kara) kamu. Tapowreddha sebutanya orang yang lanjut (tua dan matang) didalam brata. Jnanawreddha namanya orang yang lanjut (tua dan matang) didalam ilmu pengetahuan.
Demikianlah penjelasan Panca Siksa, yang menyebutkan bahwa Guru Susrusa itu sama maknanya dengan Gurubhakti. Adapun yang disebut Guru Susrusa didalam Silakrama yang merupakan bagian dari Niyamabrata, adalah selalu berada dekat Guru, karena keras keinginan atau kemauanya utuk mendapatkan pelajaran mengenai peraturan hidup seorang Wiku, hendaknya tidak tersandung rintangan, karena bila seorang Wiku kurang mendapat ajaran dan nasehat (Warawarah) dari Gurunya, tidak akan semua pengetahuan akan dilaksanakannya.
Terlebih didalam Panca Sila dan Dasa Dharma sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan (Abhyudaya) dan kebebasan hidup dari ikatan duniawi dan kebahagiaan yang langgeng (Nissreyasa)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar